Thursday, 10 August 2017

Revolusi Mental Hukum Forex


Diposkan por zam Saja di 02.51 Oleh Satrio Arismunandar Sungguh menyegarkan, mengetahui bahwa di antara sekian bakal calon presiden yang namanya disebut-sebut di media, ternyata ada juga yang memiliki perhatian khusus pada soal-soal besar kebudayaan. Inilah kesan pertama saya terhadap tulisan Joko Widodo (Jokowi), calon presiden dari PDI Perjuangan, di harian Kompas (Sabtu, 10 Mei 2014). Artikelnya yang berjudul Revolusi Mental itu merupakan uraian yang lebih sistematis dari cetusan pernyataannya di media massa beberapa waktu lalu. Tulisan Jokowi pada intinya ingin menjelaskan, mengapa meski Indonesia sudah 16 tahun melakukan reformasi sejak berhentinya pemerintahan Presiden Soeharto pada Mei 1998, nyatanya kegalauan, keresahan, bahkan kemarahan rakyat tetap terasa. Kebebasan politik dan berekspresi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan tersedianya berbagai sarana demokrasi - seperti Pemilihan Umum yang diadakan secara rutin setiap 5 tahun-ternyata gagal menjawab persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini. Menurut Jokowi, hal itu terjadi karena reformasi yang dilakukan belum bersifat menyeluruh, yakni hanya sebatas perombakan yang sifatnya institusional. Ia belum menyentuh paradigma, a mentalidade. Atau budaya politik kita dalam rangka pembangunan bangsa (edifício da nação). Padahal inti pembangunan adalah pada perombakan manusianya dan sifat mereka yang menjalankan sistem ini. Karena pembenahan itu tidak mencakup perubahan manusianya, maka berbagai tradisi atau budaya yang tumbuh dan berkembang da era rezim Orde Baru tetap bertahan sampai sekarang. Seperti budaya korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, kecenderungan melakukan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, sikap mau enaknya sendiri, dan sifat oportunistik. Maka reformasi yang cuma menyentuh kulit permukaan ini tidak akan sanggup membawa bangsa kita untuk mencapai cita-cita proklamasi. Sebagai jalan keluarnya dan langkah korektif, Jokowi menyarankan perlunya dilakukan revolusi mental. Penggunaan istilah 8220revolusi8221 ini tidak berlebihan, sebab Indonésia memang memerlukan terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala praktik buruk, yang sudah sekian lama dibiarkan merajalela da era D Orde Baru. Perubahan Sikap Mental Menanggapi tulisan Jokowi, pertama perlu dinyatakan bahwa gagasan Jokowi sebenarnya tidaklah benar-benar baru. Beberapa pemikir sudah menyatakan ide yang pada dasarnya serupa. Jokowi sendiri memang tidak mengklaim pemikirannya sebagai ide orisinal. Namun, pemikiran Jokowi, yang diakuinya lebih berangkat dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi selama ini, patut kita apresiasi. Hal ini karena Jokowi seperti telah mengingatkan kita kembali bahwa persoalan krusial yang dihadapi bangsa ini sebetulnya adalah soal kebudayaan dalam arti luas. Jadi, bukan kebudayaan dalam arti yang direduksi, yang secara gampangan sering diterjemahkan sekadar sebagai keris, batik, seni ukir, tari-tarian daerah, dan atraksi seni pertunjukan, yang dikomodifikasikan untuk industri pariwisata. Ada ratusan definisi tentang kebudayaan. Namun, untuk menyederhanakan, kita kutip pendapat Koentjaraningrat (2003), yang menyarankan agar kebudayaan dibeda-bedakan sesuai dengan empat wujudnya. Wujud kebudayaan, mulai dari tampilan luar yang paling mudah dilihat, ke pusat atau inti yang paling dalam, berturut-turut adalah sebagai berikut: artefatos atau benda-benda fisik, sistema tingkah laku dan tindakan yang berpola, sistema gagasan, dan sistema gagásano yang ideologis . Bagaimana peran kebudayaan, yang menyangkut aspek mentalitas manusia dalam pembangunan nasional Untuk itu, saya mengutip pemikir masalah pembangunan, Myron Weiner. Ia menegaskan: 8220Pembangunan menuntut perubahan sikap mental manusia, yang selain merupakan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan, ia juga merupakan tujuan utama dari pembangunan itu sendiri.8221 Oleh karena itu, jelas bahwa kegagalan gerakan reformasi dalam membawa perubahan yang signikan bagi kemajuan Indonésia disebabkan Karena gerakan itu belum menyentuh aspek yang mendasar, yaitu sikap mental dari manusianya sendiri. Aspek manusia sering diperlakukan lebih sebagai penunjang atau aspek pinggiran (periferal), dalam mengejar tujuan-tujuan pembangunan yang dianggap 8220lebih besar8221 atau 8220lebih penting.8221 Tujuan yang diagung-agungkan itu adalah pertumbuhan ekonomi, atau lebih tepatnya, pertumbuhan ekonomi yang memusat pada kelompok kecil Tertentu, yang seringkali juga mengabaikan aspek pemerataan. Jokowi menunjukkan bahwa upaya merombak budaya korupsi, misalnya, yang merupakan sistem tingkah laku dan tindakan yang berpola dalam kebudayaan, harus dilakukan lewat revolusi mental. Maka berdasarkan konsep Koentjaraningrat, hal ini berarti, kita masuk lebih dalam ke inti kebudayaan, yaitu sistem gagasan dan sistem gagasan yang ideologis. Implikasinya, pernyataan sejumlah kalangan bahwa sekarang ini masalah ideologi (baca: ideologi Pancasila) sudah tidak relevan lagi dibicarakan atau dijadikan acuan, jelas-jelas keliru. Orientasi Pada Masa Depan Justru sistem gagasan yang ideologis, kini menjadi salah satu wahana kebudayaan terpenting untuk melakukan perubahan besar bagi pembangunan bangsa. Upaya pemberantasan korupsi tidak akan bisa dituntaskan hanya dengan mengandalkan institusi KPK atau lembaga-lembaga penegakan hukum yang sudah ada (kejaksaan, kehakiman, atau kepolisian). Untuk bisa berhasil, pemberantasan korupsi itu juga harus diperjuangkan dalam perspektif strategi kebudayaan. Itulah penerjemahan dari ide 8220revolusi mental8221 yang dicetuskan Jokowi. Strategi kebudayaan yang bagaimana Di sini saya akan meminjam konsep strategi kebudayaan Van Peursen (1988). Van Peursen menyarankan cara mendekati kebudayaan yang tidak lagi terpaku pada definisi-definisi teoretis, yang sudah begitu banyak. Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang apakah gerangan kebudayaan itu, melainkan apa yang dapat kita perbuat dengan kebudayaan. Filsafat kebudayaan modern meninjau kebudayaan terutama dari sudut policy tertentu, sebagai suatu strategi kebudayaan atau masterplan bagi masa depan. Jadi, filsafat kebudayaan bukan lagi sekadar aktivitas teoretis, namun ia adalah alat atau sarana yang membantu kita merumuskan suatu strategi kebudayaan untuk hari depan. Manusia Indonésia moderna hendaknya disadarkan tentang kebudayaannya, dan hal ini berarti ia secara aktif diharapkan turut memikirkan dan merencanakan arah, yang akan ditempuh oleh kebudayaan yang manusiawi. Kini kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang lebih dinamis, bukan sesuatu yang kaku atau statis. 8220Kebudayaan8221 bukan lagi kata benda tetapi lebih sebagai kata kerja, dan terutama dihubungkan dengan kegiatan manusia. Termasuk di dalamnya, adalah upaya pemberantasan korupsi dan upaya mewujudkan demokrasi yang substanciais di negeri ini. Van Peursen mengakui, kebudayaan juga termasuk tradisi, dan 8220tradisi8221 dapat diterjemahkan sebagai pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, atau kaidah-kaidah dari masa lalu. Namun, tradisi itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah. Tradisi justru diperpadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia. Manusia membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia bisa menerimanya, menolaknya, atau mengubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan-perubahan. Jadi, di sinilah kata kuncinya. Revolusi mental yang dicanangkan Jokowi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi kebudayaan kita. Strategi kebudayaan itu memposisikan kebudayaan sebagai suatu yang dinamis, yang tidak sekadar menerima dan mewarisi tradisi masa lalu, namun ia bisa menolak, bahkan mengubahnya. Dengan demikian, strategi kebudayaan kita memilih untuk berorientasi ke masa depan, dengan penekanan pada semangat perubahan untuk membentuk Indonésia yang lebih baik. Tulisan ini juga dimuat di nefosnews Satrio Arismunandar, mahasiswa Programa S3 Departemen Ilmu Filsafat, FIB-UI. Seminggu terakhir, saya memaksakan diri untuk membaca buku tulisan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rekan-rekan yang berjudul Revolusi Mental. Saya kok benar-benar penasaran. Terkait dengan kenaikan BBM Subsidi yang dilakukan minggu lalu, ada satu dua hal yang menggelitik hati saya. Belum tentu sesuatu yang melanggar hukum sebenarnya. Tapi, karena apa yang terjadi masih merupakan tipuan-tipuan stadar yang biasa di lakukan. Saya jadi sedikit bertanya: Benarkah Jokowi benar-benar serius dalam melakukan Revolusi Mental ini Akankah ini semua hanya masih sama dengan yang kemarin hanya dibalut oleh bungkus yang berbeda Kenaikan harga BBM Subsidi yang sebesar Rp 2000 por litro itu. Sebenarnya wajar. Kalau orang bilang: Malásia menurunkan harga BBM Subsidi sedangkan Indonésia malah menaikkan, saya yakin yang bilang seperti itu adalah orang yang kurang waras. Maklum. Negara lain pastinya sudah mengubah, menurunkan, dan menaikkan harga BBM berkali-kali, sedangkan harga BBM Subsidi kita sudah lama tidak berubah. Malásia saja, kabarnya sekarang malah kebingungan karena harga BBM Subsidi mereka lebih murah dari harga BBM Subsidi Indonesia dan malah berencana menaikkan lagi harga BBM Subsidinya karena takut diselundupkan ke Indonesia. Kejadian lucu pertama muncul, ketika Menteri Keuangan menjawab pertanyaan wartawan mengenai harga keekonomian dari BBM jenis premium. Ketika itu, beliau menjawab bahwa harga keekonomian BBM Premium lebih dari Rp 10.000. Langsung seperti ada yang menyala di kepala saya: lha kok bisa Pertamax saja harganya ketika itu Rp 10.200. Akhir minggu kemarin, Pertamax di beberapa tempat bahkan sudah diturunkan hingga dibawah Rp 10.000. Lha kok bisa harga Premium 10.000, terutama, pada kesempatan yang sama, Pertamina sendiri, dalam hal ini melalui Hanung Budya, Direktur Pemasaran de Niaga Pertamina, bahkan menyatakan bahwa harga keekonomian BBM Premium saat ini adalah sebesar Rp 9.200 Angka siapa yang benar Angka Pemerintah atau Pertamina Saya nggak pingin empurrando ngitung sendiri karena harga MOPS (Mean of Platts Singapore) yang merupakan harga patokan dari penghitungan harga BBM Subsidi ini bukanlah sesuatu harga yang terbuka yang mudah untuk dicari. Teman-teman yang sudah berhitung, bahkan sudah menemukan angka bahwa harga BBM Premium sudah dibawah Rp 8500. Salah satu penjelasan yang paling rasional adalah bahwa Pak Menkeu menggunakan dados Indonesian Crude Oil Price (ICP) sebagai dasar dari penghitungan harga BBM Subsidi, bukan menggunakan harga MOPS Padahal. Sudah 10 tahun terakhir kita berhitung dengan menggunakan MOPS. Bisa saja ini adalah kebiasaan baru pada Pemerintahan yang baru. Tapi. Tetap saja lucu menentukan sebuah kebijakan yang vital, dengan menggunakan dados yang tidak akurat atau bahkah menggunakan dados yang lain. Masih bagus rakyat masih percaya sama Presidennya. Kalau enggak. Gimana rasanya tuh Sikap dari Pak Menkeu saat kenaikan harga BBM Subsidi ini membuat saya kemudian bertanya-tanya: ini kah mental yang sudah di-revolusi Tetap menggunakan dados seenaknya, menganggap seluruh rakyat adalah mahasiswa yang udah di gertak atau rakyat yang mudah dibohongi Lha terus apa Bedanya dengan Pemerintah yang terdahulu Kalau hanya sekedar kenaikan harga bbm subsidi sebesar Rp 2000 por litro, itu adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya untuk dilakukan. Problemnya ada pada hal-hal yang kemudian terjadi setelah itu. Banco Indonésia yang selama ini merasa sudah memiliki fórmula untuk menaklukkan inflasi yang terjadi pasca kenaikan harga BBM Subsidi ini dengan cara menaikkan suku bunga BI Classificação sebesar 25 ponto base (0,25 persen), kemudian secara reflek menaikan BI Rate. Ini kemudian menjadi problem baru, mengingat dalam setahun terakhir, Bank Indonésia menggunakan instrumen tersebut untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi. Ceritanya begini: Rupiah terus melemah karena terjadi defisit neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan ini terjadi, karena ekonomi yang tumbuh tinggi, membutuhkan impor dari barang-barang. Maka, agar Rupiah bisa lebih stabil, pertumbuhan ekonomi diperlambat dengan cara mempertahankan suku bunga (BI Rate) di level yang tinggi. Pertanyaannya: kalau BI Rate dinaikkan lagi. Apakah pertumbuhan ekonominya tidak menjadi semakin lambat Kenaikan BI Avalie yang niatnya baik untuk memerangi inflasi, malah dianggap bakal menjadi boomerang: dianggap bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah lambat. Aneh juga sih sebenarnya. Ditengah negara-negara di dunia yang berlomba-lomba memacu pertumbuhan ekonomi dengan memberikan suku bunga rendah, Indonésia malah menerapkan suku bunga tinggi dengan berbagai alasan. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya adalah: apakah memang tidak ada koordinasi antara BI dan Pemerintah terkait dengan kenaikan harga BBM Subsidi ini Lha terus. Apa bedanya dengan Pemerintah yang sebelumnya triomacan2000 Ditangkap, Telkom Melenggang Dulu saya suka seguindo twit dari triomacan2000. Saya mengenal account twitter ini dari mantan wartawan senior Tempo yang merupakan teman saya menunaikan ibadah haji di akhir 2012. Atas rekomendasi beliau, saya kemudian na sequência da conta ini. Menarik memang fenomena triomacan2000 ini. Pada awalnya, karena mengungkapkan masalah penyelewengan serta korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat, dan sebagian kemudian diantaranya benar, maka saya sempat menjadi seguidor setia ketika awalnya. Akan tetapi, karena lama kelamaan ulasannya semakin bernada kebencian dan tidak dilandaskan oleh dados yang jelas, maka sejak perten jahan tahun 2013, saya sudah tidak siga a conta itu lagi. Ketika orang yang dituduh sebagai triomacan2000 kemudian ditangkap saya tidak heran. Terlepas apakah benar orang yang ditangkap tersebut adalah triomacan2000 atau bukan, saya sebenarnya tidak empurrando. Tapi setidaknya, sudah ada tanda-tanda bahwa Pemerintah berbuat sesuatu terhadap akun-akun penyebar kebencian, itu sudah membuat hati saya menjadi lebih tenang. Akan tetapi, ketika kemudian kasus yang membuat triomacan2000 tersebut ditangkap kemudian ikut menghilang juga, terus terang. Hati kecil saya juga tidak terima. Benar, kasus tukar guling antara saham PT. Torre Bersama, Tbk. (TBIG) dengan saham Mitratel (anak perusahaan PT. Telekomunikasi IndonesiaTLKM) memang sulit untuk dibuktikan kerugian dari negara dalam hal ini TLKM karena yang terjadi adalah tukar menukar kertas vs kertas, tukar menukar surat berharga, yang nilanya lebih dari Rp 11 trilyun. Tapi, karena tukar guling tersebut dilakukan pada harga yang saham TBIG sebesar Rp 14.511, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata 3 bulan yang hanya sebesar Rp 8.062. Dan juga pembelian ini tidak bisa dikatakan murah karena dengan Price to Earnning Ratio (PER) yang sangat premium. Jika menggunakan EPS 2013 a partir de 2013, por angk Rp 260, a mais tardar Rp 14511 itu berarti TLKM membeli TBIG pada harga POR 55 kali. Harga yang hanya cocok untuk akuisisi kemepemilikan mayoritas, tidak untuk sekedar kepemilikan sebesar 13,7 persen. Saya sebagai rakyat, kok merasa kalau diri saya sedang dikadalin. Belum lagi beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sosialisasi peraturan yang dilakukan oleh sebuah lembaga. Isinya mengenai aturan principal bagi IPO perusahaan pertambangan yang belum berproduksi. Terus. Setelah saya tanya-tanya. Kok isinya memperbolehkan perusahaan yang belum bireerasi dengan tambang di luar negeri untuk melakukan IPO. Padahal orang yang punya tambang di luar negeri dengan nilai besar ya orangnya ya itu-itu saja. Kalau perusahaan seperti itu boleh IPO, bagaimana nasib dari pemodal varejo lokal kita yang membeli saham a perusahaan itu Benarkah revolusi mental hasilnya bakal seperti ini Pemerintah yang tidak kompak, Pemerintah yang membodohi rakyat, Pemerintah menganggap rakyat hanya menjadi obyek (bahan obyekan untuk cari duit) Kok berasa seperti penyakit menahun yang sudah ada semenjak saya kecil. Semenjak Orde Baru. Revolusi Mental. Apakah Hanya produk lama dengan bungkus yang baru Revolusi Mental Tenane Revolusi Mental Bener niy Menurut saya siy. Kalaupun Pemerintah mau mengambil não encontrado no BBM8230. Sebenarnya gak masalah. Asalkan nantinya Pemerintah bisa mengalokasikan hasilnya pada sektor-sektor yang lebih bermanfaat. Ah. Pasti ini bukan Revolusi Mental seperti yang digambarkan por Jokowi. Saya sadar bahwa Revolusi Mental ini masih dalam tahap awal. Jalan 100 hari juga belum. Tapi, sepertinya memang masih banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama orang-orang yang terlibat sebagai Aktor Utama sobre Revolusi Mental ini. Saya hanya penonton yang selalu giat untuk memberikan semangat. Feliz comercial semoga barokah.

No comments:

Post a Comment